KESEHATAN OLAHRAGA

Artikel Olahraga

view:  full / summary

Anatomi Manusia

Posted by yudik on December 2, 2010 at 4:09 AM Comments comments (0)

I. Osteologi Umum

II. Osteologi Khusus

 

I. Osteoligi Umum

Tubuh manusia disusun oleh tulang yang disebut skeleton.

Fungsi tulang

1. Untuk menegakkan dan memberi bentuk pada badan

2. Melindungi organ tubuh yang penting misalnya : otak, paru-paru, jantung dsbnya

3. sebagai alat gerak pasif

4. Menghasilkan sel – sel darah

5. Sebagai tempat penimbunan mineral, misalnya Ca, P.

 

Susunan Tulang

Bila kita mengambil suatu tulang panjang maka susunannya sebagai berikut: bagian yang di tengah disebut diaphyse, kedua ujungnya disebut eiphyse.

 bagian epiphyse yang membentuk persendian dilapisi oleh tulang rawan yang disebut cartilago articularis

 permukaan luar dari tulang dibungkus oleh selaput tulang yang disebut periosteum

 pada potongan transversal didapati : stratum compacta = substantia compacta yang makin ke arah epiphyse makin tipis, sehingga di epiphyse susunan tulang berlubang-lubang kecil disebut substansia spongiosa.

 Pada calvaria cranii terdapat dua lapisan substansia campacta yang disebut : tabula externa dan tabula interna, diantaranya terdapat substantia spongiosa yang disebut diploe.

 Lubang di dalam diaphyse disebut cavum medullare yang ke arah epiphyse berhubungan dengan lubang pada substantia spongiosa.

 Permukaan dalam dari substantia compacta dilapisi oleh selaput tipis yang disebut endosteum

 Periosteum terdiri dari 2 lapisan yaitu :

1. stratum fibrosa (sebelah luar), mengandung pembuluh darah dan saraf

2. stratum generativum terdiri dari serabut-serabut yang halus serta sel-sel tulang yang mempunyai potensi untuk membentuk tulang.

 

Klasifikasi Tulang

a. Menurut bentuknya :

1. Os longum ( tulang panjang ), misalnya ; humerus, tibia, femur dsb.

2. Os brevis ( tulang pendek ) misalnya ; ossa carpalia, ossa tarsalia

3. Os planum ( tulang pipih ) misalnya ; scapula, calvaria cranii

4. Os pneumaticum ( tulang yang berongga ) misalnya ; os maxillare, labirynthus ossis ethmoidalis, dsb.

5. Os irregularis ( tidak teratur ) misalnya ; vertebra

6. Os sesamoidea adalah tulang yang terdapat pada tendo di daerah persendian, misalnya ; patella, beberapa tulang pada tendo di persendian jari – jari tangan dan kaki.

b. Menurut histologinya :

1. Jaringan tulang rawan

2. Jaringan tulang

 

 

 

 

c. Menurut ontogeni :

1. Tulang – tulang yang terbentuk secara osteogenesis desmalis, biasanya adalah tulang pipih.

2. Tulang – tulang yang terbentuk secara osteogenesis chondralis, biasanya tulang panjang.

d. Menurut letaknya :

1. Tulang axiale yaitu : cranium, skeleton trunci

2. Tulang appendicularis : extremitas superior, extremitas inferior.

 

OSTEOLOGI KHUSUS

 

Rangka manusia terbagi atas 3 bahagian :

1. Skeleton Trunci, II. Skeleton Extremitas, III. Cranium.

 

CRANIUM = semua tulang–tulang yang membentuk kepala dimasukkan dalam CRANIUM.

 

Cranium dapat dibagi atas :

A. Menurut bentuk tulang yang menyusunnya (morphologis) terdiri dari :

 Ossa Irregularis

 Ossa plana

B. Menurut kejadiannya (Osteogenesis) terdiri dari :

 Cranius Primordiale cartilagineus, yaitu bagian dari cranium yang disusun oleh tulang-tulang yang membentuk basis cranii dan visero cranium.

 Cranium Primordiale Membranaceus, yaitu bagian cranium yang disusun oleh tulang-tulang yang membentuk calvaria cranii.

C. Menurut organ yang dilindunginya terdiri dari :

 NEURO CRANIUM (OSSA CRANII), yaitu tulang-tulang yang melindungi otak secara langsung yang meliputi :

- 1 os occipitale - 1 os sphenoidale

- 2 ossa temporale - 1 os frontale

- 1 os ethmoidale - 2 os parietale

Jadi terdiri dari 8 buah tulang

 VISCERO CRANIUM (SPLANCHNO CRANIUM/ OSSA FACIEI), yaitu tulang-tulang yang melindungi/ merupakan bagian cranial dari tractus respiratorius dan tractus digestivus serta organ-organ visuil, acustic dan pembau.

Atau kadang-kadang disebut tulang-tulang yang membentuk muka, walaupun hal ini sebenarnya kurang tepat. Tulang-tulang tersebut yaitu :

- 2 maxillae - 2 ossa lacrimale

- 2 mandibula - 1 os vomer

- 2 ossa zygomaticum - 2 ossa palatina

- 2 ossa nasalis - 2 concha nasales

Jadi terdiri dari 14 buah tulang.

 

Skeleton Trunci, terdiri atas :

a. Columna vertebralis b. Costae dan c. Sternum

 

Columna Vertebralis terdiri atas :

1. vertebrae cervicales = 7 ruas

2. vertebrae thoracales = 12 ruas

3. vertebrae lumbales = 5 ruas

4. vertebrae sacrales = 5 ruas dihitung satu karena menyatu

5. vertebrae coccygeales = 4 ruas dihitung satu karena menyatu.

 

C o s t a, manusia mempunyai 12 pasang costa.

Berdasarkan perlekatannya terhadap sternum, costa dapat dibagi atas 3 bahagian besar yaitu :

 costa vera, melekata langsung pada sternum, yaitu costa I – costa VII.

 costa spuria, yang melekat pada costa di atasnya (melekat pada sternum secara tidak langsung) yaitu costa 8 – 10.

 Costa fluctuantes yaitu costa XI dan XII dimana tidak melekat sama sekali pada sternum.

 

Sternum, mempunyai bentuk sebagai keris dan terdiri atas manubrium sterni, corpus sterni. Pada ujung bawahnya tajam dan runcing dan disebut processus xiphoideus sterni = proc.ensiformis sterni.

 

SKELETON EXTREMITAS, terdiri dari :

 E. Superior

 E. Inferior

 

Extremitas Superior, terdiri dari :

- Cingulum extremitas superior terdiri dari os scapula, os clavicula.

- Extremitas superior liberae terdiri dari : os humerus, os radius, os ulna, os carpalia yang terdiri atas dua baris, baris pertama yaitu bagian proximalis (terdiri dari : os naviculare, os lunatum, os triquetrum, os pisiforme), dan baris kedua yaitu bagian distalis (terdiri dari os multangulum majus, os multangulum minus, os capitatum, os hamatum), ossa metacarpalia, dan ossa phalanges.

 

Extremitas inferior, terdiri dari :

- Cingulum extremitas inferior terdiri dari : os ilium, os ischium, os pubis, (bersatu membentuk os coxae)

- Extremitas inferior liberae terdiri dari : os femur, os patella, os tibia, os fibula, ossa tarsalia (terdiri dari os talus, os calcaneus, os cuboideus, os naviculare pedis, os cuneiforme I, II, III), ossa metatarsalia, dan ossa phalanges.

 

 

ARTIKULASI

 

Artikulasi adalah pertemuan antara dua tulang, yang biasa disebut persendian. Dapat dibagi atas :

1. Sinartrosis, yaitu pertemuan dua buah tulang atau lebih yang sama sekali tidak

memungkinkan terjadinya gerakan. Contohnya pertemuan antara tulang-tulang os

frontale dengan parietale dan dengan occipitale.

2. Sincrondosis, yaitu pertemuan dua buah tulang yang memungkinkan terjadinya

sedikit gerakan. Contohnya pertemuan antara tulang rusuk dan tulang dada.

3. Diartrosis, yaitu pertemuan dua tulang yang memungkinkan terjadinya gerakan

bebas. Dapat dibedakan atas :

- Sendi peluru, yaitu pertemuan antara caput humeri dengan fossa glenoidalis.

- Sendi engsel, yaitu pertemuan antara femur dengan tibia fibula

- Sendi pelana, yaitu pertemuan tulang ibu jari dengan telapak tangan

- Sendi geser, yaitu pertemuan tulang radius dengan ulna

- Sendi putar, yaitu pertemuan antara tulang atlas dengan cranium

- Sendi luncur, yaitu pertemuan antara tibiafibula dengan tarsalia.

 

 

Gangguan pada tulang :

1. Gangguan fisik antara lain, Fraktura yang dibedakan atas :

- fraktura sederhana, tidak melukai otot yang ada di sekitarnya.

- fraktura kompleks, melukai otot yang ada di sekitarnya, bahkan kadang bagian fraktura dapat muncul kepermukaan kulit.

- greenstick, fraktura sebagian yang tidak memisahkan tulang menjadi dua bagian.

- comminuted, fraktura yang mengakibatkan tulang terbagi menjadi beberapa bagian, tetapi masih berada dalam otot.

2. Gangguan fisiologi, disebabkan oleh kelainan fungsi hormon atau vitamin, antara lain :

- rakhitis, kekurangan vitamin D, akibatnya tulang tidak keras, kaki X atau O.

- mikrosefalus, pertumbuhan tulang cranium terganggu karena minus kalsium, akibatnya kepala berukuran kecil.

- osteoporosis, penurunan massa tulang sehingga tulang menjadi rapuh karena lambannya ossifikasi dan reabsorbsi bahan-bahan tulang. Hal ini sebagai akibat ketidakseimbangan hormon kelamin pada pria maupun wanita.

- akibat penyakit, misalnya tbc tulang dan tumor, dapat menyebabkan tekanan fisik dan fisiologis terhadap mekanisme gerak tubuh.

3. Gangguan persendian, antara lain :

- dislokasi, terjadi karena pergeseran tulang penyusun sendi dari posisi awal sebagai akibat jaringan ligamen yang sobek atau tertarik.

- terkilir/keseleo, tertariknya ligamen sendi karena grakan tiba-tiba, akibatnya peradangan pada daerah sendi.

- ankilosis, persendian tidak berfungsi.

- artritis, dibedakan atas : gautartritis, peradangan sendi akibat kegagalan metabolisme asam urat sehingga terjadi penimbunan asam urat pada persendian. Rhematoid, pengapuran pada tulang rawan yang menghubungkan tulang di persendian. Osteoartritis, penipisan tulang rawan yang menghubungkan persendian.

4. Gangguan tulang belakang , dibedakan atas :

- skoliosis, melengkungnya tulang balakang ke arah samping, akibatnya tubuh melengkung ke arah kanan atau kiri.

- kifosis= bongkok,

- lordosis, melengkungnya tulang belakang di daerah lumbal ke arah depan sehingga kepala tertarik ke arah belakang.

- subluksasi, gangguan tulang belakang pada segmen leher sehingga posisi kepala tertarik ke arah kiri atau kanan.

 

Ossifikasi (pembentukan tulang),

Pembentukan rangka manusia dimuai pada akir bulan ke dua stadium embrio dalam bentuk tulang rawan. Ossifikasi terjadi secara konsentris dari dalam ke luar. Setiap sel tulang melingkari pembuluh darah dan saraf yang akan membentuk saluran Havers, Tahukah anda fungsi dari pembuluh darah pada saluran tersebut?.Di sekitar saluran havers terdapat lamela konsentrik berupamatriks berbentuk cincin yang mengandung kalsium. Di antara lamela konsentrik terdapat zona kanalikuli (saluran kecil yang berisi cairan ekstraseluler. Kanalikuli menghubungkan lakuna satu dengan yang lainnya dengan dsaluran havers. Di dalam lakuna terdapat osteosit (sel-sel tulang). Apabila matriks tulang tersusun padat dan rapat, akan tebentuk tulang kompak. Sebaliknya, apabila susunan matriks tulang membentuk rongga, akan terbentuk tulang spons. Bagian tulag spons yang bercabang-cabang seperti jala disebut trabekula. Tulang yang sedang berkembang dibungkus oleh jaringan ikat yang disebut priosteum.


Olahraga Bagi Usia Lanjut

Posted by yudik on November 22, 2010 at 7:14 AM Comments comments (0)

Berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa gaya hidup santai menjadi faktor ri-, siko relatif untuk penyakit jantung. Sementara itu, olah raga secara teratur dapat mengurangi kematian dan keparahan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan usia. Periksa dulu Olah raga untuk lansia tentu memerlukan beberapa penyesuaian. Sebelum memulai olah raga sebaiknya kondisi fisik lansia diperiksa oleh tenaga medis. Hal ini untuk menyesuaikan jenis dan kadar aktivitas olah raga yang akan dilakukan, bukan untuk melegalkan lansia dengan penyakit untuk sama sekali tidak berolah raga.

Sedikit sekali penyakit yang menyebabkan lansia dilarang berolah raga, misalnya serangan . jantung yang baru terja.di,,b]pk jantung atau hipertensi tidak terkendali. Bahkan untuk penderita penyakit-penyakit tersebut pun tetap direkomendasikan untuk olah raga ringan sesuai petunjuk yang dikeluarkan Konferensi Bethesda ke-26. Lebih lanjut lagi, pasien yang sedang salat parah dan harus tirah baring pun diusahakan untuk selalu diubah posisinya dan bila mungkin diposisikan tegak minimal beberapa kali dalam sehari.

Pada prinsipnya, olah raga untuk lansia harus dimulai pada kadar aktivitas yang sangat ringan kemudian secara bertahap meningkat sampai pada kadar aktivitas sedang. Untuk mendapatkan hasil maksimal, olah raga lansia sebaiknya terdiri dari tiga komponen olah raga, yaitu latihan aerobik, latihan kekuatan dan latihan keseimbangan

serta kelenturan. Latihan aerobik artinya latihan olah raga untuk kesehatan jantung dan paru, berupa gerakan tubuh secara umum seperti berjalan kaki. Target untuk lansia adalah latihan aerobik sedang selama tiga puluh menit, hampir setiap hari. Acuan mudah untuk mengetahui kadar latihan ini sudah tepat adalah dengan talk test, yaitu berjalan kaki dengan kecepatan maksimal di mana lansia masih bisa berbincang-bincang dengan nyaman, tidak te-rengah-engah. Awalnya tentu latihan ini harus dimulai perlahan-lahan dan dicoba-coba sesuai kemampuan lansia. Misalnya dimulai dengan berjalan kaki pelan-pelan selama 5-10 menit. Pilihan aktivitas lain yang dapat dipilih adalah bersepeda, berenang, golf, atau memancing yang dilakukan sambil berdiri dan menarik-narik joran. Seperti halnya latihan aerobik, lansia yang baru mulai berolah raga harus memulai latihan kekuatan secara perlahan dan bertahap. Latihan ini penting untuk membantu meningkatkan kekuatan otot lansia yang mengalami penurunan kekuatan dan massa otot seiring bertambahnya usia. Latihan kekuatan bisa dimulai dengan mengangkat botol minuman dengan jumlah pengulangan dan berat botol sedikit demi sedikit meningkat. Setiap gerakan dilakukan perlahan (lengan diangkat perlahan), sendi bergerak penuh, dan tidak boleh menahan napas. Targetnya adalah berhasil melakukan satu set latihan kekuatan terdiri dari sepuluh jenis gerakan berbeda (angkat botol dengan tangan, angkat kaki, duduk bangun dari kursi, dll.) sebanyak masing-masing 10-15 kali tanpa merasa pegal kemudian. Latihan ini dilakukan dua atau tiga kali dalam seminggu.

Latihan keseimbangan

Pentingnya latihan keseimbangan dan kelenturan memang belum memiliki bukti ilmiah, tetapi secara empiris baik dilakukan untuk meningkatkan stabilitas dan menghindari risiko lansia jatuh. latihan ini misalnya dengan berdiri pada satu kaki, pere-

gangan otot-otot lengan, otot-otot kaki; seperti saat kita melakukan pemanasan sebelum olah raga pada umumnya. Latihan dilakukan seminggu dua kali.

Mengingat pentingnya olah raga untuk menunjang kesehatan lansia, orang-orang di sekitar lansia harus mendukung lansia berolah raga. Lansia biasanya mengalami berbagai halangan personal, sosioekonomi, dan lingkungan untuk memulai olah raga. Orang-orang di sekitar lansia sebaiknya memberikan waktu dan tenaga untuk meyakinkan lansia akan manfaat olah raga, merancang kegiatan olah raga yang bersifat individual sampai dengan mendampingi saat lansia berolah raga. Dengan demikian, lansia dapat berolah raga dengan nyaman, senang, dan berkelanjutan hingga cita-cita sehat di usia lanjut dengan olah raga dapat tercapai.

Paket olah raga lansia

Latihan aerobik

Target latihan aerobik tiga puluh menit hampir setiap hari dalam seminggu. Bentuk dapat berupa jalan, berenang, bersepeda, memancing. Dapat dimulai dengan berjalan kaki di dalam lingkungan rumah selama lima menit, berjalan di air dari tepi kolam renang ke tepi lain.

Latihan kekuatan

Target satu set latihan kekuatan terdiri dari sepuluh jenis gerakan berbeda, sebanyak masing-masing 10-15 kali tanpa merasa pegal kemudian; 2-3 x seminggu. Bentuk dapat berupa angkat botol air mineral dengan lengan, bangun-berdiri dari kursi. Gerakan mengangkatbotol harus perlahan dan gerakan sendinya penuh. Dapat dimulai dengan angkat lengan tanpa beban.

 


Manfaat Jogging Bagi Kesehatan

Posted by yudik on November 22, 2010 at 7:11 AM Comments comments (0)

STUDI dalam beberapa tahun terakhir semakin mengukuhkan bahwa berjalan tergopoh-gopoh dan bukan jalan santai memang memberi banyak manfaat bagi kesehatan kita. Inilah sembilan manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas jalan kaki

(1)   Serangan Jantung.

Pertama-tama tentu menekan risiko serangan jantung. Kita tahu otot jantung membutuhkan aliran darah lebih deras (dari pembuluh koroner yang memberinya makan) agar bugar dan berfungsi normal memompakan darah tanpa henti. Untuk itu, otot jantung membutuhkan aliran darah yang lebih deras dan lancar. Berjalan kaki tergopoh-gopoh memperderas aliran darah ke dalam koroner jantung. Dengan demikian kecukupan oksigen otot jantung terpenuhi dan otot jantung terjaga untuk bisa tetap cukup berdegup.

Bukan hanya itu. Kelenturan pembuluh darah arteri tubuh yang terlatih menguncup dan mengembang akan terbantu oleh mengejangnya otot-otot tubuh yang berada di sekitar dinding pembuluh darah sewaktu melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu. Hasil akhirnya, tekanan darah cenderung menjadi lebih rendah, perlengketan antarsel darah yang bisa berakibat gumpalan bekuan darah penyumbat pembuluh juga akan berkurang.

Lebih dari itu, kolesterol baik (HDL) yang bekerja sebagai spons penyerap kolesterol jahat (LDL) akan meningkat dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh. Tidak banyak cara di luar obat yang dapat meningkatkan kadar HDL selain dengan bergerak badan. Berjalan kaki tergopoh-gopoh tercatat mampu menurunkan risiko serangan jantung menjadi tinggal separuhnya.

(2). Stroke.

Kendati manfaat berjalan kaki tergopoh-gopoh terhadap stroke pengaruhnya belum senyata terhadap serangan jantung koroner, beberapa studi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tengok saja bukti alami nenek-moyang kita yang lebih banyak melakukan kegiatan berjalan kaki setiap hari, kasus stroke zaman dulu tidak sebanyak sekarang. Salah satu studi terhadap 70 ribu perawat (Harvard School of Public Health) yang dalam bekerja tercatat melakukan kegiatan berjalan kaki sebanyak 20 jam dalam seminggu, risiko mereka terserang stroke menurun duapertiga.

(3). Berat badan stabil.

Ternyata dengan membiasakan berjalan kaki rutin, laju metabolisme tubuh ditingkatkan. Selain sejumlah kalori terbuang oleh aktivitas berjalan kaki, kelebihan kalori yang mungkin ada akan terbakar oleh meningkatnya metabolisme tubuh, sehingga kenaikan berat badan tidak terjadi.

(4). Menurunkan berat badan.

Ya, selain berat badan dipertahankan stabil, mereka yang mulai kelebihan berat badan, bisa diturunkan dengan melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu secara rutin. Kelebihan gajih di bawah kulit akan dibakar bila rajin melakukan kegiatan berjalan kaki cukup laju paling kurang satu jam.

(5). Mencegah kencing manis.

Ya, dengan membiasakan berjalan kaki melaju sekitar 6 km per jam, waktu tempuh sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah berkembangnya diabetes Tipe 2, khususnya pada mereka yang bertubuh gemuk (National Institute of Diabetes and Gigesive & Kidney Diseases).

Sebagaimana kita tahu bahwa kasus diabetes yang bisa diatasi tanpa perlu minum obat, bisa dilakukan dengan memilih gerak badan rutin berkala. Selama gula darah bisa terkontrol hanya dengan cara bergerak badan (brisk walking), obat tidak diperlukan. Itu berarti bahwa berjalan kaki tergopoh-gopoh sama manfaatnya dengan obat antidiabetes.

(6). Mencegah osteoporosis.

Dengan gerak badan dan berjalan kaki cepat, bukan saja otot-otot badan yang diperkokoh, melainkan tulang-belulang juga. Untuk metabolisme kalsium, bergerak badan diperlukan juga, selain butuh paparan cahaya matahari pagi. Tak cukup ekstra kalsium dan vitamin D saja untuk mencegah atau memperlambat proses osteoporosis. Tubuh juga membutuhkan gerak badan dan memerlukan waktu paling kurang 15 menit terpapar matahari pagi agar terbebas dari ancaman osteoporosis.

Mereka yang melakukan gerak badan sejak muda, dan cukup mengonsumsi kalsium, sampai usia 70 tahun diperkirakan masih bisa terbebas dari ancaman pengeroposan tulang.

(7). Meredakan encok lutut.

Lebih sepertiga orang usia lanjut di Amerika mengalami encok lutut (osteoarthiris). Dengan membiasakan diri berjalan kaki cepat atau memilih berjalan di dalam kolam renang, keluhan nyeri encok lutut bisa mereda. Untuk mereka yang mengidap encok lutut, kegiatan berjalan kaki perlu dilakukan berselang-seling, tidak setiap hari. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada sendi untuk memulihkan diri.

Satu hal yang perlu diingat bagi pengidap encok tungkai atau kaki: jangan keliru memilih sepatu olahraga. Kita tahu, dengan semakin bertambahnya usia, ruang sendi semakin sempit, lapisan rawan sendi kian menipis, dan cairan ruang sendi sudah susut. Kondisi sendi yang sudah seperti itu perlu dijaga dan dilindungi agar tidak mengalami goncangan yang berat oleh beban bobot tubuh, terlebih pada yang gemuk.

Bila bantalan (sol) sepatu olahraganya kurang empuk, sepatu gagal berperan sebagai peredam goncangan (shock absorber). Itu berarti sendi tetap mengalami beban goncangan berat selama berjalan, apalagi bila berlari atau melompat. Hal ini yang memperburuk kondisi sendi, lalu mencetuskan serangan nyeri sendi atau menimbulkan penyakit sendi pada mereka yang berisiko terkena gangguan sendi.

Munculnya nyeri sendi sehabis melakukan kegiatan berjalan kaki, bisa jadi lantaran keliru memilih jenis sepatu olahraga. Sepatu bermerek menentukan kualitas bantalannya, selain kesesuaian anatomi kaki. Kebiasaan berjalan kaki tanpa alas kaki, bahkan di dalam rumah sekalipun, bisa memperburuk kondisi sendi-sendi tungkai dan kaki, akibat beban dan goncangan yang harus dipikul oleh sendi.

(8) Depresi.

Ternyata bergerak badan dengan berjalan kaki cepat juga membantu pasien dengan status depresi. Berjalan kaki tergopoh-gopoh bisa menggantikan obat antidepresan yang harus diminum rutin. Studi ihwal terbebas dari depresi dengan berjalan kaki sudah dikerjakan lebih 10 tahun.

(9). Kanker

juga dapat dibatalkan muncul bila kita rajin berjalan kaki, setidaknya jenis kanker usus besar (colorectal carcinoma). Kita tahu, bergerak badan ikut melancarkan peristaltik usus, sehingga buang air besar lebih tertib. Kanker usus dicetuskan pula oleh tertahannya tinja lebih lama di saluran pencernaan. Studi lain juga menyebutkan peran berjalan kaki terhadap kemungkinan penurunan risiko terkena kanker payudara.

 



Rss_feed